Basuara ID -- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memaparkan tiga program strategis yang dirancang untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan sekaligus memperbaiki taraf hidup Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Program ini mencakup kebijakan "Gentengisasi", renovasi puluhan ribu rumah tidak layak huni, hingga penyediaan hunian vertikal bersubsidi.
Fokus utama dari kebijakan ini adalah menciptakan efek domino ekonomi. Dalam program Gentengisasi, misalnya, pemerintah mendorong penggantian atap seng dengan genteng tanah liat. Secara teknis, langkah ini bertujuan menciptakan hunian yang lebih sejuk. Namun di sisi lain, kebijakan ini memicu lonjakan permintaan produksi genteng lokal secara signifikan. Data di lapangan menunjukkan kenaikan pengiriman genteng di sentra industri seperti Majalengka, dari yang semula belasan truk menjadi ratusan truk per hari.
Selain sektor industri kreatif dan UMKM, sektor konstruksi lokal juga mendapat sorotan melalui rencana renovasi puluhan ribu rumah tidak layak huni. Berbeda dengan prosedur sebelumnya, sistem pendaftaran kini dibuat lebih terbuka agar akses bantuan lebih merata. Pelibatan tenaga kerja dari lingkungan sekitar dalam proses renovasi diharapkan dapat menghidupkan toko material dan warung-warung di tingkat desa.
Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa Jawa Barat diproyeksikan menjadi percontohan nasional dalam implementasi program perumahan dan pemberdayaan ekonomi lokal ini. Kehadiran apartemen subsidi juga masuk dalam rencana besar guna menjawab tantangan keterbatasan lahan hunian di wilayah perkotaan yang padat.
Melalui integrasi antara pemenuhan kebutuhan papan dan penguatan sektor UMKM, pemerintah daerah berupaya memastikan bahwa setiap anggaran yang dikeluarkan untuk infrastruktur dasar juga kembali berputar di tangan masyarakat kecil sebagai penggerak utama ekonomi daerah.
